Bergabunglah di grup telegram Urie Join now

Review Soar: Menggugah Harapan dan Keberanian dalam Dunia Animasi

Film ini bukan hanya tentang terbang, tetapi juga tentang mengejar harapan meski dunia terasa membatasi.
review soar

Setelah menonton Soar, saya bisa bilang ini adalah salah satu film pendek animasi yang benar-benar menghangatkan hati. Meskipun durasinya hanya sekitar 6 menit, film ini berhasil menyampaikan pesan yang dalam tentang keberanian, impian, dan hubungan antar generasi. Film ini bukan hanya tentang terbang, tetapi juga tentang mengejar harapan meski dunia terasa membatasi.

Cerita dalam Soar berpusat pada seorang gadis muda bernama Nadia, yang bermimpi untuk bisa terbang. Dia tinggal di sebuah kota yang terisolasi dan dipenuhi oleh langit kelabu, di mana impian semacam itu hampir terasa mustahil. Namun, Nadia tidak menyerah—dia membangun sebuah pesawat terbang dari berbagai barang yang dia temukan, bertekad untuk mewujudkan impian itu. Di sisi lain, ada seorang pria tua yang juga memiliki mimpi yang sama, dan dia menjadi sosok mentor bagi Nadia.

Sejak awal, saya langsung tertarik dengan bagaimana film ini menggambarkan semangat tanpa henti dari karakter utamanya. Saya bisa merasa bahwa Soar ingin menunjukkan bahwa meskipun kita hidup dalam dunia yang penuh keterbatasan, impian kita tetap punya kekuatan untuk mengangkat kita lebih tinggi—baik secara harfiah maupun metaforis. Nadia, meskipun dikelilingi oleh rintangan, terus berusaha, dan itu adalah pesan yang benar-benar menginspirasi.

Hal yang paling saya sukai dari film ini adalah bagaimana ia menggabungkan unsur visual dan emosional dengan begitu mulus. Setiap frame dalam film ini dipenuhi dengan detail yang memukau, menggambarkan kota yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan potensi. Warna-warna cerah yang menghiasi pesawat buatan Nadia kontras dengan langit kelabu di sekelilingnya, memberi kesan bahwa meskipun dunia bisa terasa suram, harapan dan impian kita bisa bersinar.

Tentunya, salah satu momen yang paling menggugah adalah saat Nadia akhirnya meluncurkan pesawatnya, dan pesawat itu terbang, meskipun dalam cara yang tidak terduga. Saat itu, saya merasa campuran antara kegembiraan dan keharuan. Ada sesuatu yang sangat menyentuh tentang melihat seorang anak muda yang berani mewujudkan impiannya meskipun dunia sekitarnya tidak memberinya banyak dukungan.

Saya juga tak bisa tidak merasa terhubung dengan karakter pria tua yang menjadi mentor Nadia. Terkadang, kita lupa bahwa orang-orang yang lebih tua pun memiliki impian yang belum tercapai. Mereka mungkin tidak lagi dalam masa keemasan untuk mengejar impian itu, tetapi mereka selalu bisa memberikan harapan dan inspirasi kepada generasi berikutnya. Hubungan mentor-mentee antara mereka berdua terasa begitu alami, dan itulah yang membuat film ini semakin berkesan.

Namun, seperti halnya banyak film pendek lainnya, ada satu hal yang mungkin menjadi kelemahan. Karena durasinya yang singkat, beberapa penonton mungkin merasa bahwa karakter-karakter dan pengembangan cerita tidak cukup mendalam. Tetapi, bagi saya, pendekatan yang lebih sederhana ini justru memperkuat pesan utama film—bahwa dalam hidup, kita tidak selalu membutuhkan banyak waktu atau detail untuk membuat perubahan besar. Kadang, satu langkah kecil, satu tindakan berani, bisa mengubah segalanya.

Secara keseluruhan, Soar adalah film yang memadukan elemen-elemen klasik tentang impian dan harapan dengan cara yang sangat memukau secara visual dan emosional. Jika Anda mencari sesuatu yang singkat namun penuh makna, yang bisa membuat Anda tersenyum dan merasa lebih bersemangat untuk mengejar impian Anda, saya sangat merekomendasikan film ini. Walaupun hanya berlangsung beberapa menit, film ini bisa meninggalkan dampak yang jauh lebih besar.

Jika ada satu hal yang bisa saya ambil dari Soar, itu adalah pesan bahwa tidak ada yang terlalu besar untuk dicapai—bahkan dengan tangan kita sendiri dan bantuan dari orang-orang yang kita percayai. Terbang bukan hanya untuk burung atau pesawat, tetapi juga untuk impian yang tak terbatas.

Menulis banyak topik tentang krisis identitas, insecure, anxiety, overthinking dan kesehatan mental lainnya dipadukan dengan budaya pop dan filsafat.