Review Captain fantastic: Gambaran sifat dasar manusia ala Jean-Jackques Rousseau
Menonton Captain Fantastic (2016) bagi saya adalah pengalaman yang membangkitkan perasaan campur aduk tentang kebebasan, pendidikan, dan sifat dasar manusia—tema-tema yang sangat dekat dengan pemikiran Jean-Jacques Rousseau. Dalam film ini, kita mengikuti kisah Ben Cash (diperankan oleh Viggo Mortensen), seorang ayah yang membesarkan enam anaknya di hutan, jauh dari peradaban dan norma sosial.
Ben percaya bahwa dengan hidup di luar masyarakat modern, dia bisa mengajarkan anak-anaknya bagaimana hidup sesuai dengan prinsip-prinsip alami, jauh dari kemunduran dan korupsi yang ditawarkan oleh dunia luar. Bagi saya, Captain Fantastic adalah cerminan visual yang kuat dari teori Rousseau tentang "kehidupan alami" manusia dan pandangannya terhadap peradaban.
Kembali ke Alam: Pendidikan dan Sifat Dasar Manusia Menurut Rousseau
Rousseau dalam karya terkenalnya, Emile, or On Education, berpendapat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang baik, tetapi peradaban, dengan segala aturan dan struktur sosialnya, telah merusak sifat alami tersebut. Dia percaya bahwa masyarakat mengembangkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan, yang menjauhkan manusia dari keadaan alami mereka yang murni dan tidak tercemar.
Dalam Captain Fantastic, kita bisa melihat bahwa Ben mengadopsi pandangan ini secara ekstrem. Dia memilih untuk membesarkan anak-anaknya jauh dari pengaruh dunia luar, mengajari mereka keterampilan bertahan hidup, filsafat, matematika, hingga musik—semua di tengah alam bebas.
Bagi Ben, ini adalah cara terbaik untuk melindungi anak-anaknya dari "korupsi" dunia modern. Baginya, masyarakat sering kali mengajarkan nilai-nilai yang membatasi kebebasan dan kreativitas manusia, serta menumbuhkan ketergantungan yang merusak. Dengan cara hidup yang sederhana dan terisolasi ini, Ben percaya bahwa anak-anaknya akan tumbuh menjadi individu yang mandiri, berpikiran luas, dan tidak terikat oleh norma sosial yang sempit.
Krisis Ketika Berhadapan dengan Peradaban
Namun, seperti yang kita lihat sepanjang film, nilai-nilai Rousseau yang dipegang Ben mulai diuji ketika keluarga ini harus menghadapi dunia luar yang lebih kompleks. Ketika mereka berkunjung ke kota untuk menghadiri pemakaman ibu mereka, anak-anak yang selama ini terisolasi dari peradaban mulai merasa terkejut dengan dunia yang penuh dengan kebiasaan dan struktur sosial yang mereka tidak pahami. Ben percaya bahwa peradaban adalah tempat yang penuh penindasan, tetapi kenyataannya, anak-anaknya yang dibesarkan dengan prinsip kebebasan mutlak itu harus belajar berinteraksi dengan dunia yang lebih besar dan lebih terstruktur.
Di sini, saya melihat salah satu titik penting yang diungkapkan oleh Rousseau: meskipun manusia memiliki potensi untuk hidup dengan baik dalam keadaan alami, interaksi dengan dunia sosial tak bisa dihindari. Ketika anak-anak Ben mulai bergaul dengan teman sebaya mereka di sekolah, mereka menyadari bahwa dunia luar memiliki aturan dan harapan yang berbeda. Ini adalah saat yang sangat mendalam dalam film, karena kita melihat bagaimana perbedaan antara pendidikan alami yang diberikan oleh Ben dan kehidupan dunia nyata bisa menciptakan ketegangan dan kebingungannya.
Pendidikan dan Kebebasan: Sebuah Kontradiksi?
Dalam satu sisi, saya melihat Captain Fantastic sebagai kritik terhadap sistem pendidikan tradisional. Ben memandang sekolah sebagai tempat yang menghambat kreativitas dan kebebasan anak-anak, yang merupakan pandangan yang sangat mirip dengan pandangan Rousseau tentang pendidikan. Rousseau berpendapat bahwa pendidikan harus berkembang secara alami, mengikuti minat dan kemampuan individu, bukan terstruktur dan penuh dengan norma yang membatasi.
Ben mendidik anak-anaknya untuk berpikir mandiri, untuk tidak mengikuti alur kehidupan yang konvensional, dan ini sesuai dengan gagasan Rousseau bahwa manusia akan lebih bahagia dan lebih terhubung dengan dirinya sendiri ketika mereka diberi kebebasan untuk berkembang sesuai dengan naluri mereka.
Namun, film ini juga mengajukan pertanyaan penting: Apakah kebebasan yang diajarkan Ben benar-benar kebebasan yang terbaik bagi anak-anaknya? Sebagai orang dewasa, kita bisa mengerti bahwa hidup di dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan tantangan membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan alam atau keterampilan bertahan hidup.
Ketika keluarga ini berhadapan dengan kenyataan dunia luar, kita melihat bagaimana dunia yang lebih terstruktur, meskipun seringkali penuh dengan kekurangan, juga menawarkan kenyamanan, kesempatan, dan bahkan kehangatan sosial yang sulit mereka temui di hutan.
Menghadapi Keterbatasan Dunia Modern
Krisis terbesar yang dihadapi Ben adalah ketika dia menyadari bahwa meskipun dia percaya hidup di luar masyarakat adalah pilihan yang paling benar, dunia modern tidak bisa begitu saja dihindari. Anaknya, yang sangat cerdas dalam banyak hal, juga membutuhkan koneksi dengan dunia luar, seperti halnya mereka membutuhkan koneksi emosional dengan keluarga dan masyarakat.
Rousseau mungkin berpikir bahwa kebebasan murni adalah hal yang sangat penting, tetapi Captain Fantastic mengingatkan kita bahwa kebebasan itu sendiri tidak selalu cukup untuk menjamin kebahagiaan atau kesejahteraan. Dalam banyak hal, pendidikan bukan hanya tentang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga tentang membimbing seseorang untuk menemukan tempat mereka dalam struktur sosial yang lebih besar.
Ketika Ben menghadapi kenyataan bahwa anak-anaknya mungkin tidak akan selamanya menerima cara hidup yang sama dengannya, dia dipaksa untuk mempertimbangkan apakah dia telah memberi mereka kebebasan yang mereka butuhkan atau justru mengisolasi mereka dalam sebuah dunia yang sangat sempit. Ini adalah dilema yang saya pikir banyak orang tua di dunia modern bisa rasakan—bagaimana memberikan kebebasan tanpa mengabaikan kebutuhan sosial dan emosional anak-anak kita?
Kesimpulan: Kebebasan dalam Konteks Masyarakat
Captain Fantastic adalah film yang menggugah dan mengundang refleksi tentang apa artinya hidup bebas dalam dunia yang kompleks. Mengambil inspirasi dari filsafat Jean-Jacques Rousseau, film ini menggambarkan sebuah pandangan hidup di mana kebebasan yang sejati datang dengan risiko dan tantangan yang besar. Ben berusaha mengajarkan anak-anaknya untuk hidup dalam kebebasan yang lebih besar, tetapi dia juga harus mengakui bahwa dunia luar—meskipun penuh dengan kekurangan—adalah bagian dari kehidupan yang tak bisa dihindari.
Pada akhirnya, film ini memberi tahu kita bahwa meskipun kita bisa merindukan kehidupan yang lebih sederhana dan bebas dari pengaruh buruk masyarakat, kenyataannya manusia, seperti yang diungkapkan Rousseau, adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sepenuhnya terisolasi. Kebebasan sejati, mungkin, bukan hanya soal menghindari struktur sosial yang ada, tetapi bagaimana kita menemukan keseimbangan antara kebebasan dan keterhubungan dengan orang lain.
Join the conversation